Jakarta, CNN Indonesia


Siswa SMA bernama David Dworken berhasil meretas situs Departemen Pertahanan Amerika Serikat hanya dalam waktu 10 hingga 15 jam. Itu pun ia lakukan di sela-sela waktu senggang di sekolahnya dengan menggunakan laptop.

Setidaknya ada enam celah keamanan yang dilaporkan oleh remaja yang baru lulus pekan ini dari sekolah menengah atas, Maret di kawasan Washington D.C.

Beberapa bug yang ditemukannya itu memungkinkan orang lain untuk mengubah tampilan situs dan mencuri sejumlah informasi tentang akun yang terkait yang ada pada situs tersebut.

Namun Dworken tak mendapatkan ganjaran apa-apa, karena yang ditemukannya itu sudah sempat dilaporkan sebelumnya oleh peserta yang mengikuti kompetisi "Hack the Pentagon".
Meski begitu, Dworken mengatakan bahwa ia sempat ditawari beberapa tempat magang yang potensial berkat keberhasilannya.
Tak hanya itu, remaja berusia 18 tahun ini juga mendapatkan pujian dari seorang Sekretaris Departemen Pertahanan setempat, Ash Carter karena sudah membantu menemukan celah keamanan sebelum diketahui oleh pihak oposisi.

"Kita tahu bahwa peretas yang disponsori oleh negara dan peretas bertopi hitam ingin menantang dan mengekspoitasi jaringan kami," kata Carter pada sebuah acara seremonial. Pria yang berencana untuk mengambil jurusan ilmu komputer di Northeastern University ini pun mengatakan bahwa ini bukan pertama kalinya ia menemukan celah keamanan dalam sebuah situs. Sebelumnya, ia mengaku sempat melakukan hal yang sama pada situs sekolahnya saat berumur 10 tahun.

Diketahui, awal April lalu, Departemen Pertahanan Amerika Serikat sempat membuka lomba "Hack the Pentagon". Ini merupakan program berhadiah yang pertama kali diadakan dalam sejarah pemerintah federal. Sesuai namanya, melalui ajang ini peserta ditantang agar membobol sistem keamanan Pentagon untuk keperluan identifikasi dan mengatasi celah keamanan dari sejumlah website Departemen Pertahanan. Lomba yang dimulai pada 18 April 2016 dan berakhir pada 12 Mei 2016 tersebut, diikuti oleh lebih dari 1.400 peserta dan berhasil menemukan 138 celah keamanan.

Setidaknya, Departemen Pertahanan AS menghabiskan dana hingga US$150.000 (sekitar Rp2 miliar) untuk mengadakan lomba ini. US$75.000 (sekitar Rp998 juta) di antaranya diberikan untuk para peretas yang berhasil menemukan celah keamanan pada website Departemen Pertahanan.

"Ini bukan jumlah yang kecil. Tetapi jika kita menempuh proses normal dengan cara menyewa perusahaan luar untuk melakukan audit keamanan dan kerentanan, seperti yang biasanya kita lakukan, itu akan memakan biaya lebih dari US$1 juta (sekitar Rp13,3 miliar)," kata Carter.

(eno)





---> SUMBER <---