KOMPAS.com - Belakangan ini saya menemukan jurus jitu untuk mengajarkan perihal ‘makan bener’ – yang sebetulnya cukup ruwet dan njlimet jika mau diurai secara ilmiah. Jurus yang akan saya tulis ini lebih ampuh ketimbang menjawab berderet-deret pertanyaan, ”Dok, makan ini boleh? Bagaimana makan yang itu?” yang akhirnya bukan memberdayakan orang, tapi malah menjerat orang dewasa menjadi kerdil: sebatas patuh. Jurus logika yang saya maksud di atas sebenarnya adalah soal perjalanan waktu dan perubahan hidup. Kebanyakan orang hanya fokus pada apa yang nampak jelas di luar. Tepatnya dandanan. Bahkan, begitu banyak kanak-kanak terburu-buru ingin jadi dewasa. Wajah polos diacak make up. Model baju apalagi. Nah, yang pasti, tidak ada orang dewasa yang sudi mengenakan model pakaian zaman ia masih balita. Begitu pula mereka yang sudah beruban, pastinya punya selera berpakaian yang ‘lebih senior’.

Sekali lagi, yang nampak kasat mata jelas dipandang tentu lebih mudah dianalisa. Lalu bagaimana dengan kebutuhan yang lain, sebut saja: pangan? Jarang ada orang yang memikirkan bahwa dengan perubahan usia, maka perlu juga ada pergeseran apa yang dimakan. Justru yang lebih sering ditemui, nenek tergoda mencomot kentang goreng cucunya. Atau seorang kakek berbagi sekaleng permen coklat dengan bocah yang terpaut lebih dari satu setengah abad usianya. Banyak dokter atau ahli gizi yang merasa ‘tidak tega’ dengan tatapan memelas klien-kliennya yang terbelenggu makanan kecanduan – walaupun jelas-jelas para profesional ini paham betul risikonya. Dengan alasan ‘sesekali’, akhirnya berbagai sajian menyesatkan itu masih terhidang merangsang selera. Lebih mengenaskan lagi jika sang klien awalnya hanya diabetes lalu sudah berkembang menjadi gagal ginjal. Tatapan memelas itu yang tadinya memohon untuk menikmati sesekali, sekarang bermakna beda: permintaan sebelum kondisi fatal terjadi.

Pergeseran pola konsumsi pangan selayaknya juga dijalankan, jika selera berpakaian kita berubah. Maksudnya, jika saat ini kita sudah memasuki usia tertentu, maka ada baiknya dipikirkan apakah kita masih layak makan seperti layaknya anak kecil atau anak remaja – yang masih dalam tahap tumbuh kembang. Kita sudah tidak kembang kemana-mana lagi. Paling-paling lingkar perut yang akan mengembang tanpa batas. Begitu pula jika dua puluh atau tiga puluh tahun yang lalu (sebutlah ‘zaman susah’) kita bekerja masih pontang panting menggunakan tenaga fisik, maka kita memang makan sesuai aktivitas tinggi yang membutuhkan banyak kalori itu. Tapi apakah bijak dan arif, jika saat ini ketika rezeki berpihak pada kita dan karenanya bokong lebih banyak duduk di kursi empuk – tapi saya masih makan sekuat kuli?

Padahal, kursi empuk berjodoh dengan komputer – yang artinya kerja otot beralih menjadi aktivitas otak. Dan nutrisi bagi otak tentunya tidak sama dengan kebutuhan otot. Sayangnya, masalah kebutuhan nutrisi kita masih berkutat seputar hitungan kuantitas. Bukan kualitas. Padahal kalori tidak bicara soal kebaikan nutrisi. Hanya informasi seputar jumlah hitungan kuantifikasi satuan energi. Sama-sama mengandung 400 kilokalori, seorang penderita diabetes bisa masuk rumah sakit jika mengonsumsi roti putih berselai gula, ketimbang makan 1 ons daging ayam panggang.

Pada dasarnya, yang ‘memanggil ‘ manusia untuk memilih makanannya bukanlah raga dalam artian fisik semata, melainkan jiwa yang tak kunjung tenang dan menolak jadi dewasa sesuai perjalanan waktu. Jadi tak heran jika kita masih melihat orang bertubuh dewasa, berpakaian layaknya orang dewasa, tapi pilihan makanannya seperti anak yang masih butuh energi untuk tumbuh kembang. Saya mengandaikan energi tumbuh kembang itu seperti tenaga dorong pesawat yang sedang lepas landas. Logikanya, begitu mencapai ketinggian 33.000 kaki, maka tenaga dorong itu harusnya disesuaikan menjadi tenaga terbang menjelajah hingga mendekati tujuan. Bicara soal ketidaksesuaian usia raga dan panggilan jiwa, ternyata urusannya bukan hanya soal makanan. Banyak orang yang menderita secara emosional karena tahun di mana jiwanya berada tidak pas dengan tahun raganya hidup. Ini bukan pembicaraan ranah klenik. Maksudnya, mereka yang begitu terbelenggu dengan kejadian-kejadian masa lampau, secara emosional belum mampu melihat kenyataan yang ada di masa sekarang. Generasi milenial menamakan hal ini dengan istilah ‘belum bisa move on’. Menjadi lebih parah lagi, apa yang dirasakannya saat ini dan orang-orang yang ditemuinya di hari ini semua dibandingkan, dicocok-cocokkan dengan peristiwa di masa lalu. Itu salah satu kontributor mengapa kita ‘bermasalah’ dengan orang lain. Bukan salah orang itu sebenarnya. Tapi kita menyimpan kesan dan ‘pesan masa lalu’ – sehingga mau seperti apa pun orang itu berubah, sama sekali tak nampak di mata kita.

Mengingat perilaku erat hubungannya dengan emosi, maka tak heran juga orang-orang yang mempunyai kesulitan menyalurkan rasa bahagia, sedih, cemas atau frustrasi akan memproyeksikannya pada makanan. Ketimbang menuntaskan masalah yang ada atau menghadapi segala sesuatu sesuai proporsinya, pelampiasan emosi ditumpahkan di sekantong keripik, kue basah, es krim, coklat, hingga kemewahan high tea dengan hidangan mini sarat kalori minus nilai gizi. Tak heran orang zaman dahulu memandang kemakmuran dengan tubuh berisi dan pipi tembem. Metafor yang amat mengecilkan nilai kebahagiaan dan kekayaan. Kebahagiaan yang ‘tinggal kelas’ tentu akan tertuang dalam perilaku makan, minum, hingga seks. Karena itu bagian dari kasta terbawah dorongan kebutuhan nafsu. Sedangkan, apabila kebahagiaan itu mampu ditingkatkan nilainya, maka seorang manusia akan masuk ke dalam kasta kebutuhan yang lebih tinggi sesuai dengan perkembangan usia yang diyakini mampu menuerap kedewasaan moral.

Makan tidak hanya untuk menggemukkan badan, melainkan bisa memberi makan orang lain juga. Kebutuhan bonding tidak lagi bicara seks semata, melainkan keinginan untuk mencintai dan melindungi serta memberi visi tentang masa depan. Maka, di usia senja, kita sama-sama bisa mengharapkan cukup banyak kelompok senior yang walaupun tubuhnya dipertahankan ramping, tapi amalnya melebihi gunung. Sekali pun rumahnya sederhana, tapi ruangan jiwanya dipenuhi kebajikan manusia filantropis.

Dalam banyak kepercayaan dan keyakinan religius, sosok seperti itu diandaikan tokoh yang diliputi kebahagiaan surga dan dunia. Untuk tidak terlalu muluk dan berandai-andai, saya yakin siapa pun bisa menjalaninya – karena tuntunan rohani tentunya dimaksudkan untuk menjinakkan nafsu ragawi. Mulailah dengan satu langkah sederhana: mari makan sesuai kebutuhan usia dan beban kerja.





---> SUMBER <---