Jakarta, CNN Indonesia -- Negara-negara besar Eropa mulai cenderung bakal mendukung pemimpin oposisi Venezuela, Juan Guaido. Mereka bakal mendukung Guaido dengan catatan jika Presiden Nicholas Maduro tak segera mengambil langkah mengadakan pemilihan umum darurat dalam waktu delapan hari ke depan.

Negara-negara seperti Inggris, Jerman, Prancis dan Spanyol sudah menyatakan mereka akan mengakui Guaido kecuali pemilu di Venezuela dilakukan, dikutip dari Reuters, Minggu (27/1).

"Pemerintah Spanyol memberi Nicolas Maduro delapan hari untuk mengadakan pemilihan yang bebas, transparan dan demokratis," kata Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez dalam pernyataannya.


"Jika itu tidak terjadi, Spanyol akan mengakui Juan Guaido sebagai presiden sementara yang bertanggung jawab atas pemilihan ini."

Kemudian Presiden Prancis Manuel Macron mengirim tweet yang kian menggemakan pernyataan Sanchez di waktu yang hampir bersamaan.

"Kecuali jika pemilihan diumumkan dalam waktu delapan hari, kami akan siap mengakui @ jguaido sebagai 'Presiden yang bertanggung jawab' di Venezuela untuk memicu proses politik," kata Macron dalam twitnya.

Seorang juru bicara pemerintah Jerman mentweet pesan yang sama tak lama setelah pernyataan dari Presiden Spanyol dan Prancis.

Pun menteri luar negeri Inggris Jeremy Hunt membuat tak ketinggalan memberi kritikannya terhadap Maduro memipin Venezuela.

"Setelah melarang kandidat oposisi, mengisi kotak suara dan menghitung penyimpangan dalam pemilihan yang sangat cacat, jelas Nicolas Maduro bukan pemimpin Venezuela yang sah," Hunt tweeted.

Di sisi lain Rusia telah menyatakan dukungan untuk Maduro dan mendukung sekutu sosialis Amerika Selatan. Rusia juga menuduh AS menjadi dalang dan mencoba merebut kekuasaan di Venezuela.

Maduro kembali terpilih sebagai Presiden pada Mei tahun lalu di tengah tingkat partisipasi pemilu yang rendah dan tuduhan pembelian suara oleh pemerintah. Oposisi domestik, Amerika Serikat, dan pemerintah Amerika Latin yang condong ke kelompok kanan menolak kemudian mengakui hasil pemungutan suara.

Sejak itu Venezuela mulai memanas. Imbasnya ketika Guaido menyatakan dirinya sebagai presiden sementara pada hari Rabu lalu. Deklarasi 'kudeta' ini dilakukan meskipun Maduro-yang telah memimpin negara kaya minyak itu sejak 2013 dan mendapat dukungan dari angkatan bersenjata-telah menolak untuk mundur.

Awal pekan ini, bahkan Amerika Serikat menyatakan dukungan untuk Guaido, dengan Wakil Presiden Mike Pence menyebut Maduro "seorang diktator tanpa klaim sah atas kekuasaan." Sejak itu, sebagian besar negara-negara Amerika Latin dan Kanada semuanya mengatakan mereka mendukung pemimpin oposisi berusia 35 tahun itu. (Reuters/osc)




---> SUMBER <---